Masih sanggup berdiri

Isman bangkit berdiri melayani pembeli arang kelimanya pagi ini, 2 karung arang kembali terjual, membuatnya tersenyum senang. Total hingga jam 9 pagi ini ia sudah menjual 3 karung arang dan 4 bungkus plastik arang, “Alhamdulillah” ucapnya dalam hati.

Berjualan arang dan gas elpiji adalah aktifitas Isman selama 3 tahun belakangan ini, melanjutkan toko kecil peninggalan orang tuanya. Orang sering beranggapan apa yang dilakoninya bukan pekerjaan berat atau kasar, apalagi jika orang melihat telapak tangannya. “Nggak pernah kerja kasar ini” begitu komentar orang biasanya.

Isman hanya tersenyum jika ada komentar seperti itu, walaupun dalam hati ingin balik bertanya “Apakah bekerja keras atau berat hanya ditunjukkan dengan telapak tangan yang kasar dan kapalan?” Isman berpendapat bekerja keras itu penilaiannya bukan pada jenis pekerjaannya, tetapi seseorang yang mencurahkan dedikasi waktu, tenaga dan pikirannya pada pekerjaannya masing.

Memberikan 100% apa yang dimiliki untuk mendapat hasil terbaiknya, pada setiap pekerjaan, bahkan saat gagal dan jatuh seseorang itu sanggup berdiri untuk kembali mengusahakan dengan sepenuh kemampuannya untuk berhasil mencapai yang lebih baik.

Jika saja orang-orang itu mengetahui rutinitas berjualan arang itu seperti apa. Berjualan arang itu membuat tangan kotor dan hitam, terlebih saat dia harus mengemas ulang arang di karung ke dalam kemasan plastik, bukan hanya tangannya yang kena debu arang tapi juga lubang hidungnya menjadi hitam hingga terkadang membuatnya terbatuk.

Aktifitas mengemas ulang arang ke dalam plastik-plastik kresek terkadang bisa berlangsung selama 2 jam, sambil duduk di dingklik atau terkadang jongkok. Ketika ada pembeli saat mengemas arang maka ia mesti berdiri, saat itulah biasanya penat terasa, nafas terasa agak memburu dan kening basah oleh keringat. Terkadang pinggangnya juga terasa sakit saat berdiri kelamaan dalam posisi duduk melakukan aktifitas itu.

Jadi masihkah berpikir yang dilakukannya ini bukan berkotor-kotor dan berat? Namun Isman tidak menghiraukan semuanya, baginya setiap orang punya pendapatnya sendiri. Meski apa yang dilakukannya saat ini tidaklah sementereng dan sebesar bisnis beberapa temannya atau sekeren pekerjaan temannya yang lain, Isman bersyukur saat masih berdiri melayani pembeli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s