Jatuh Tercyduk

“Asyik banget baca korannya, ada berita apa?” Tanya Wendi lalu menduduki kursi di depan meja kerja Joko saat istirahat siang.

“Ada yang kecelakaan lagi di jalan depan pergudangan itu, jatuh karena lubang”. Jawab Joko sambil melipat koran dan meletakkannya di meja.

“Sudah banyak yang jadi korban lubang jalanan di situ, 2 hari yang lalu juga ada ibu-ibu yang jatuh di situ” ujar Wendi. “Entahlah tunggu berapa banyak lagi korban yang jatuh, sampai pemerintah memperbaikinya” sambungnya.

“Kalau di Jepang ada jalanan yang rusak, besoknya sudah mulus lagi, kalau di sini anakmu ulang tahun 2 kali masih juga belum diperbaiki” kata Joko sambil nyengir.

“Hahaha bisa aja kamu” sambut Wendi sambil tertawa. “Sudah sering diberitakan pengendara motor jatuh kecelakaan di situ akibat jalanan berlubang ke pemkot, tapi kok gak ada juga tindakan sampai sekarang”

“Alasannya sih pemkot lagi defisit” kata Joko kemudian meminum teh hangatnya.

“Defisit kok malah bangun gedung pertemuan” sambar Wendi, sambil menunjukkan raut kesal. “Mestinya utamakan yang lebih penting, aku saja kalau nggak terpaksa malas lewat situ”

“Bulan lalu ada keluarga teman kantor istriku yang melayangkan gugatan ke pemkot akibat terjatuh di situ dan mesti dirawat di RS beberapa hari, entah bagaimana perkembangan terbarunya” ujar Joko sambil meminggirkan gelas teh yang barusan diminumnya.

“Aku pernah lihat di luar negeri jalanan dikasih semacam sticker 3 dimensi supaya terlihat rusak, tujuannya pengendara tidak ugal-ugalan, kupikir-pikir lebih hebat kita” ujar Wendi sambil menyilangkan kakinya.

“Lebih hebat gimana wen?” Tanya Joko.

“Kalau di sini nggak lagi 3 dimensi, tapi riil sampai bisa merasakan jatuh” jawab Wendi nyengir.

“Bisa aja kamu Wen” kata Joko ikutan nyengir. “Tapi mungkin karena pemerintah tahu masyarakat kita itu baik hati dan dermawan, ada jalanan rusak masyarakat yang justru ngeluarin duit buat nambal sendiri” lanjutnya sambil mengernyitkan dahi.

“Alasannya nggak ada duit karena anggaran defisit, tapi begitu ada pejabat dari Jakarta mau berkunjung biasanya mendadak jalanan diaspal, duitnya tiba-tiba ada, prettt” ujar Wendi sambil memiringkan mulut, sinis.

“Kabarnya Walikota mau ikut mencalonkan diri di Pilkada Gubernur tahun depan, ini di koran ada beritanya juga” ujar Joko sambil telunjuknya disentuhkan ke koran yang dibacanya tadi.

“Kekuasaan lagi, jadi pemimpin di kota ini saja warga banyak yang menyuarakan ketidakpuasan kok mau jadi gubernur, kecuali pengusaha-pengusaha yang ngurus izin tambang itu sih” kata Wendi sambil bangkit dari kursinya. 

“Janji-janji manis lagi nanti waktu kampanye, jatuh lagi korban masyarakat karena janji-janjinya. Kalau kena diabetes bisa berobat ditanggung BPJS, kalau kena janji manis pejabat?” Tanya Wendi lagi sambil mengangkat kedua bahunya. 

“Sudah, kita makan siang yuk, nanti kalau terciduk KPK seperti Walikota sebelah, bakalan jatuh jabatannya” ajak Joko, sambil berdiri dan berjalan menuju kantin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s