Kita Pribumi

Darren menutup buku sejarah setebal 554 halaman didepannya sambil menghela napas, ia melihat sekeliling, tidak ada orang lain, sama seperti kemarin. Tampaknya yang dikatakan pustakawan kemarin benar adanya.

“Kamu satu-satunya orang yang masuk dan membaca buku di seksi sejarah sejak 4 bulan ini, mungkin dalam 6 bulan ini malahan”.

Ia menatap buku sejarah yang barusan dibacanya, sejarah negeri ini antara tahun 1997-1999. “Zaman krisis moneter” begitu ujar kakeknya jika menyinggung tahun 1997, masa demo mahasiswa mencapai puncaknya dengan menduduki Gedung MPR/DPR dan berujung Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun memimpin negeri ini.

Dari buku ini ia melihat foto-foto kondisi yang terjadi saat itu, persis seperti yang diceritakan kakeknya. Foto ribuan mahasiswa menguasai bahkan sebagian naik ke atap Gedung MPR/DPR, belasan foto demo mahasiswa di berbagai kota di Indonesia menuntut turunnya harga sembako, Orasi-orasi mahasiswa dan tokoh yang menyerukan penurunan harga sembako dan pengunduran diri presiden sambil memegang pengeras suara. Foto mahasiswa dengan ikat kepala, memegang spanduk berdiri di depan sebuah kampus ternama ibukota.

Namun ada salah satu bab yang membuatnya sedih, bab yang menceritakan kerusuhan pada saat itu. Kondisi ekonomi yang saat itu terpuruk diperparah dengan aksi penjarahan dan kekerasan yang terjadi karena munculnya sentimen pada etnis tertentu, kondisi kacau masa itu dimanfaatkan sebagian orang dengan menjarah barang-barang dari toko dan pusat perbelanjaan. Banyak pemilik usaha yang ketakutan kemudian akhirnya memilih eksodus ke luar negeri karena alasan keamanan dan merasa terancam keselamatan diri dan keluarganya. Toko-toko di sentra perdagangan tutup, di pintu-pintunya diberi tulisan “Pribumi”.

Sentimen muncul karena kemarahan sebagian besar rakyat terhadap penguasa dan konglomerat kroninya, rakyat mengganggap merekalah biang keladi krisis ekonomi yang terjadi. Rakyat waktu itu memiliki anggapan semua orang beretnis tersebut perilakunya sama, sehingga dianggap mesti diberi pelajaran. Mereka lupa bahwa yang menyebabkan kejahatan, kesengsaraan dan ketidakadilan bukanlah dari suatu etnis tapi karena keserakahan individunya.

Sentimen etnis tampak muncul kembali dari buku sejarah yang dibaca Darren kemarin, menceritakan suasana negeri ini tahun 2015-2019, pemicu sama yaitu ketidakadilan yang dirasakan sebagian besar rakyat kecil saat kondisi ekonomi menurun sehingga daya beli masyarakat melemah. Mereka merasa penguasaan ekonomi dan sumber daya alam diberikan kepada kelompok kecil pemilik modal, mereka dikalahkan melalui aturan dan hukum tangan penguasa, maka percikan kata pribumi kembali berhembus.

Keserakahan akan kekuasaan, sumber daya alam dan ekonomi yang menyebabkan kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan yang menyengsarakan rakyat kecil. Menyebabkan benda mati sebuah kata bernama “pribumi” menjadi hidup seolah makhluk yang memiliki musuhnya bernama “non pribumi”. Saling berbenturan melalui manusia-manusia yang demi ambisi pribadi rela menghembuskan fitnah dan rekayasa kebohongan, serangkaian pencitraan palsu, memperalat manusia-manusia berakal pendek yang mudah tersulut emosi dengan wahana kelompoknya serta kekaguman buta pada idolanya.

Sejarah berulang, tetapi sayang sangat sedikit sekali yang mau membaca sejarah, belajar darinya, atau seperti kata Kakek Darren “Kita itu mudah sekali melupakan, toleransinya tinggi kepada yang sudah lewat, tapi mudah sekali marah pada yang belum jelas kebenarannya, sehingga mudah dimanfaatkan orang-orang serakah”. Sejarah mengajarkan bahwa orang-orang serakah selalu berada di belakang kedua belah pihak, maka baik pribumi maupun non pribumi yang berkuasa, mereka tetap menang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s