Jet darat dan Rossi di Indonesia

Gelaran jet darat Formula 1 dan Moto GP sudah mau selesai untuk musim ini, meski sudah tidak rutin nonton siaran langsungnya lagi di televisi tapi tetap menyimak perkembangan berita terbarunya. Terutama Formula 1 yang setelah era Michael Schumacher dan Mika Hakkinen sudah tidak terlalu menarik menurut saya.

Indonesia sendiri sudah digadang-gadang sejak lama bakal jadi penyelenggara salah satu event balapan otomotif terbesar tersebut, dari sejak sebelum negara api menyerang. Tapi bahkan kini saat serangan berganti oleh negara gingseng dengan kpop-nya tak juga terwujud impian itu.

Negara-negara tetangga bahkan saat ini lebih dulu menyelenggarakan dua event tersebut, negara jiran dengan Sirkuit Sepang menggelar jet darat F1 dan Moto GP, sementara Singapura menggelar balapan malam F1 di sirkuit jalan raya. Pastinya banyak warga Indonesia yang menyeberang untuk menonton ke sana, kabar teranyar Thailand pada 2019 (kalau tidak salah) akan jadi penyelenggara baru.

Tahun lalu sebenarnya kita punya secercah harapan karena Sirkuit Sentul sudah diagendakan dalam jadwal Moto GP di 2018, tapi sayang kemudian pemerintah gagal menyetor sejumlah uang sebagai salah satu persyaratan kepada Dorna sebagai pemegang hak penyelenggara Moto GP. 

Menyelenggarakan F1 atau Moto GP memang mahal, selain membayar sejumlah besar uang ke pihak pemegang hak, kemudian sirkuit yang memenuhi standar pastinya, hingga operasional penyelenggaraan. Apakah menjadi tuan rumah penyelenggara kedua event itu pasti akan untung, jawabnya “TIDAK”.

Tidak ada jaminan untung secara finansial, beberapa negara penyelenggara bahkan kabarnya merugi secara finansial sehingga ada yang memutuskan tidal jadi tuan rumah lagi setelah kontraknya berakhir. Tapi beberapa negara baru juga muncul mengajukan diri untuk menggantikan, seperti Thailand contohnya. Rugi tapi kok masih ada yang mau?

Karena menjadi tuan rumah kedua event tersebut bukan hanya soal urusan keuntungan finansial, pertimbangan lainnya adalah sebagai sarana promosi negara, menarik wisatawan asing. Kira-kira kalau dulu Indonesia benar-benar jadi tuan rumah 2 event itu, warga Singapura dan Malaysia pastinya akan datang ke sini menonton.

Akan tetapi dengan kondisi perekonomian dan keuangan negara saat ini memang kurang tepat jika memaksakan diri, ada banyak hal yang lebih prioritas untuk dibiayai dengan anggaran negara. Mungkin akan lebih mungkin apabila diambil alih oleh pihak swasta, membentuk konsorsium.

Walaupun sebenarnya gelaran 2 event tersebut akan mampu memberikan multiplier effect yang luas, wisatawan asing dan bahkan domestik akan berdatangan, hotel akan terisi, tempat-tempat makan akan diserbu, perputaran uangnya akan sangat besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s