Pilar keempat yang goyah

Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif merupakan 3 pilar demokrasi, akan tetapi secara informal ada pilar keempat dalam demokrasi yaitu pers yang berperan sebagai penyampai informasi kepada publik dan kontrol sosial. Peran pers semakin penting saat kebutuhan akan berita seolah menjadi kebutuhan pokok, pers punya peran besar menggerakkan banyak hal mulai dari ekonomi, politik, sosial hingga budaya.

Independensi pers sebagai penyampai informasi dan kontrol sosial sangat diperlukan, karena sangat berbahaya apabila pers memiliki kecenderungan menjadi alat penyebaran informasi pihak tertentu. Pers seperti itu akan menjadi alat berdaya rusak tinggi, karena dengan informasi yang disebarkannya sesuai keinginan pihak-pihak tertentu tersebut akan membuat riak bahkan gelombang di publik.

Opini yang dibentuk oleh pers dapat menaikkan seseorang ke puncak popularitas, membuat kejadian biasa menjadi luar biasa, jualan sepi menjadi ramai, mengubah hal negatif menjadi positif. Sebaliknya juga dapat menjatuhkan popularitas seseorang, membuat kejadian luar biasa menjadi biasa-biasa saja, ramai menjadi sepi, mengubah positif menjadi negatif.

Sistem pers bahkan dapat diistilahkan sebagai cerminan sistem politik suatu negara. Pers bisa menjadi alat propaganda seperti di negara komunis, dikontrol dengan ketat apa yang dicetak, disiarkan dan ditayangkan. Namun bisa bebas seperti di negara demokratis, bahkan terkadang beritanya sangat pedas menyerang pemerintah negaranya sendiri.

Karenanya pihak-pihak yang menginginkan penguasaan politik maupun ekonomi akan berupaya menguasai pers, baik itu membuat media pers sendiri atau menggalang dukungan dari pihak pers. Saat itu terjadi maka pers hanya akan jadi alat propaganda memuluskan tujuannya, dijadikan media kampanye terselubung, kaidah-kaidah jurnalistik yaitu akurasi, keseimbangan dan kejelasan tidak lagi menjadi pedoman dalam membuat berita.

Korban dari pers semacam itu adalah publik, tidak mendapatkan berita atau informasi yang benar dan utuh, sehingga mirip kisah orang buta dan gajah. Hanya bisa meraba-raba dan mencari tahu bagaimana bentuk gajah dengan menyentuh bagian tubuhnya, hanya menyentuh satu bagian tapi berpikir telah mengetahai keseluruhan dari gajah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s