Obeng dan buku

Sebagai seorang ‘pelahap’ buku, dulunya ke Gramedia itu ibarat persinggahan menghilangkan sedikit dahaga, walaupun akhirnya tidak ada buku yang dibeli, membaca-baca ringkasan berbagai macam buku sudah menyenangkan.

Sekarang rasa ingin kesana menjadi berkurang karena buku-buku yang ada semakin berkurang, rak-rak buku berganti menjadi tempat memajang boneka, tas, mainan, kaos dan obeng….hmmm obeng?

Memang harus diakui tingkat literasi di Indonesia memang tergolong rendah. Ditambah era penggunaan smartphone yang masif di perkotaan terutama, walaupun ada yang mengalihkan membaca buku fisik ke bentuk elektronik tapi yakinlah lebih banyak yang cuma sekedar bersosmed ria.

Tapi tetap saja masih merasa aneh ketika masuk ke Gramedia menemukan obeng dan kawan-kawan sejenisnya. Memang kondisi tampaknya memaksa Gramedia melakukan diversifikasi pada toko bukunya. Apakah mungkin suatu saat orang-orang mengenal Gramedia sebagai toko boneka? Atau mungkin toko perkakas? Atau department store?

Entahlah apa ini hanya terjadi di Gramedia di Kota Samarinda saja atau juga di kota-kota lain. Gramedia tampaknya mulai mengantisipasi, mereka bersiap dan bersedia untuk merubah dirinya.      

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s