Tongkol di Empang

Jakarta itu ibarat samudera yang dipenuhi banyak ikan, mulai dari teri sampai dengan ikan yang berada di puncak rantai makanan, persaingan untuk bertahan hidup ketat. Ikan yang berhasil bertahan hanya yang mempunyai keunikan dan bisa berevolusi menghadapi persaingan mendapatkan makanan yang ada, terutama dari pemuncak rantai makanan.

Pasar Jakarta memang besar banget, menggiurkan untuk digarap pelaku usaha. Tapi juga persaingannya begitu ketat, kalau tidak punya keunikan atau inovasi dan mampu terus berevolusi atau dalam hal ini kemampuan untuk terus berinovasi, maka berdarah-darahlah yang terjadi, istilahnya masuk ke dalam Red Ocean.

“Produk saya punya keunikan”

Itu bagus, tanyakan pada diri Anda sendiri seberapa unik hal tersebut dan seberapa sulit kompetitor atau bahkan orang lain meniru keunikannya dan masuk ke bisnis dan produk yang sama? Terutama di Jakarta dimana mendapatkan sumber daya produksinya lebih mudah, banyak dan murah dibanding di daerah.

Untuk bisa terus dan terus berinovasi itu memerlukan sumber daya yang kuat dan banyak, ibaratnya punya napas yang panjang untuk melakukannya. Ditambah tentunya manajemen yang sudah teruji menghadapi dan menyelesaikan bermacam permasalahan. Usia bisnis terbilang baru dan sudah jadi top leader di daerah itu bagus, jempol. Masuk ke samudera bernama Jakarta, coba dilihat dulu dan bandingkan di peta dengan daerahmu.

“Saya pengen punya 1000 cabang”

 

Apa cuma hadir di Jakarta lebih dulu baru bisa punya 1000 cabang? Pepatah lama bilang ada seribu jalan menuju Roma, banyak jalan atau cara lain untuk mencapai 1000 cabang selain hadir di Jakarta.

Dalam marketing ada istilah flanking, strategi flanking dijalankan dengan masuk dan menguasai wilayah-wilayah atau kota yang belum memiliki pemain kuat atau belum dimasuki market leader. Menggarap wilayah atau kota-kota seperti ini lebih masuk akal untuk menuju 1000 cabang dibanding ikut terjun ke samudera merah Jakarta untuk meraih jalan menuju 1000 cabang.

Strategi flanking inilah yang dipakai Telkomsel dulu pada awal berdirinya untuk menghadapi Indosat sebagai pendahulu dan market leader di bisnis seluler, kini? Tahu siapa yang sekarang lebih besar kan? Jadi kenapa tidak menggarap kota-kota yang belum punya pemain kuat atau dikuasai market leader, karena sebenarnya toh bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga memunculkan kota-kota yang memiliki daya beli cukup tinggi tapi masih kurang ada produk atau layanan yang memenuhi kebutuhan dan keinginan warganya.

Jadi daripada terjun ke samudera dan berenang menghadapi para predator di sana, kenapa gak terjun ke empang dan jadi penguasa di situ, kemudian setelahnya masuk ke empang lainnya. Kenapa mau jadi ikan tongkol di samudera kalau bisa jadi ikan tongkol di 1000 empang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s