Ikam hanyarkah?

“Ikam hanyarkah di Samarinda?” Kalimat itu bermunculan lagi kemarin saat beberapa bagian Samarinda banjir karena hujan sejak pagi hingga siang. Lupa kapan tepatnya kalimat itu mulai muncul pertama kali, tapi kalimat itu kini dijadikan meme jawaban kalau ada peristiwa yang tak kunjung terselesaikan ditangani oleh Pemkot Samarinda, banjir biasanya.

Kalimat yang seolah merepresentasikan rasa frustrasi dan kecewa warga karena selama berganti walikota tak kunjung bisa diatasi, berulang dan berulang terjadi banjir lagi. Eh baru ingat, kalimat “ikam hanyarkah di Samarinda?” awalnya justru dilontarkan oleh Walikota beberapa tahun lalu saat ditanya tentang banjir di Samarinda.

Banyak warga Samarinda merasa Pemerintah Kota Samarinda tidak serius mengatasi banjir, merasa tindakan-tindakan yang dilakukan mengatasi banjir kurang berarti untuk mengurangi apalagi mengatasi banjir yang kerap terjadi. Kalau menurut pengamat tidak melakukan penanganan banjir secara terpadu.

Harus diakui banyak tindakan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Samarinda, seperti membuat beberapa polder, memperlebar dan memperbaiki drainase di beberapa wilayah, membeli alat bernama watermaster untuk mengeruk lumpur di sungai dan saluran air, melarang membuang sampah di sungai dan parit dan apalagi ya? Entahlah apa karena proyek-proyek fisik tadi kajiannya di awal kurang sehingga tidak optimal mengurangi dan mengatasi banjir atau karena setelah dibuat tidak dirawat semestinya sehingga kegunaanya sesuai tujuan awal tidak berjalan.

Warga disisi lain dengan kurangnya kesadaran dan ketidakperdulian sebagian penduduk kota ini sebenarnya turut andil jadi penyebab banjir. Harus diakui kesadaran warga kota ini membuang sampah masih rendah, buang sampah di jalan, parit dan sungai masih dilakukan seenaknya. Terjadilah parit dipenuhi sampah yang menyebabkan aliran air tidak lancar dan tersumbat, Sungai Karang Mumus bahkan jadi tempat sampah terpanjang. Anekdotnya bahkan jika ada bangkai pesawatpun dibuangnya ke Sungai Karang Mumus.

Warga dan Pemerintah Kota saling menyalahkan. Pemkot seharusnya begini begitu dan bukannya malah begini begitu menurut warga, sebaliknya warga mestinya bisa begini begitu dan tidak begini begitu kata pejabat. Mungkin karena dasarnya gak ada manusia yang mau disalahkan, bahkan pejabat level pemkot dan pemprov juga saling melempar itu bukan urusannya, padahal tinggalnya sama-sama di Samarinda loh dan mestinya akan lebih baik kalau bekerjasama, tapiiiiiii ah sudahlah.

Samarinda memang rendah, sehingga banjir bahkan sudah langganan terjadi sejak puluhan tahun lalu saat penduduknya bahkan masih sedikit, tapi mestinya bukan kemudian dijadikan salah satu alasan menjawab tuntutan warga yang kerap kebanjiran. Ibarat orang naik motor kehujanan kemudian membeli jas hujan untuk antisipasi, bukan sekedar “Namanya juga kena hujan, ya basah mau gimana lagi”

Oh iya ikam hanyarkah di Samarinda itu artinya kamu barukah di Samarinda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s