Sudah tutup

Masuknya sebuah brand besar dengan dukungan kekuatan finansial, sistem dan nama yang sudah terkenal ke daerah biasanya akan membuat resah pemain lokal apalagi skala UKM. Contohnya adalah masuknya jaringan minimarket modern Indomaret dan Alfamaret, menimbulkan bermacam reaksi di daerah-daerah. Mulai dari suara penolakan di media, menolak melalui jalur DPRD dan Kepala Daerah, hingga melakukan aksi menutup dan menyegel paksa.

Seorang teman yang memiliki minimarket bahkan mengajak saya dan beberapa teman untuk meminta pendapat waktu Indomaret dan Alfamart masuk ke Samarinda. Ia galau mesti melakukan apa, terbersit rasa takutnya bagaimana bisnis minimarketnya menghadapi kedua raksasa tersebut.

Sebagai teman kami memberi beberapa pandangan dan usul yang intinya memberikan semangat untuknya mampu bertahan melawan kedua raksasa tersebut. Tapi apa benar kehadiran kedua raksasa minimarket itu membuat minimarket lokal dan warung tradisional tutup? Kalau yang akhirnya tutup memang ada, tapi yang bertahan juga ada, bahkan kini memunculkan minimarket-minimarket lokal.

Yang tutup mungkin karena mereka tidak tahu mesti menonjolkan apa di minimarketnya, mereka tidak mencoba melihat keunggulan apa yang mereka punya dan tidak dimiliki atau bisa disediakan oleh jaringan minimarket modern. Mereka fokus melihat keunggulan raksasa tersebut hingga lupa memperhatikan kelemahan apa yang mereka punya.

Jaringan minimarket modern itu tempatnya terang benderang, orang nyaman berlalu-lalang diantara rak-rak mereka, penataannya rapi sehingga barang mudah ditemukan, kantong kreseknya disablon, karyawannya pakai seragam, bisa bayar pakai kartu debit atau kartu kredit. Apa lagi?

Minimarket lokal? Pengen terang tambahin lampu-lampunya, bikinin karyawan seragam, kantong kresek disablon, pasang mesin EDC supaya bisa menerima pembayaran pakai kartu debit atau kartu kredit juga sekarang gampang pengajuannya. Kalau jarak antar rak sehingga pembeli leluasa lalu-lalang dan harga barang murah nah ini beda bahasan.

Kedua jaringan minimarket modern tersebut bisa mengatur rak mereka lebih renggang sehingga pembeli leluasa lalu lalang karena jenis barang yang mereka jual sebenarnya tidaklah banyak. Nah tidak banyaknya jenis barang yang mereka jual bisa dimanfaatkan oleh pemain lokal, dengan menjual jenis barang yang lebih beraneka macam. Konsekuensinya memang penataan rak mungkin jadi lebih rapat sehingga pembeli agak kurang leluasa lalu lalang, tapi percayalah ada banyak orang yang memilih¬†membeli ke suatu tempat karena di situ lebih “lengkap” barangnya, dibanding mereka harus pindah tempat lagi untuk belanja atau mencari barang di tempat lain.

Karena mereka adalah jaringan besar, mereka mempunyai kemampuan untuk membeli suatu barang dalam jumlah besar dan langsung dari pabrik sehingga mendapat harga lebih murah, sehingga merekapun bisa menjual lebih murah dari pesaing. Eitss apa semua barang mereka lebih murah? Yakinlah tidak, yang murah itu sebenarnya cuma beberapa jenis aja, dan kadang cuma saat mereka ngadain promo. Jadi hindarilah adu harga murah dengan mereka, kecuali bahkan bisa memanfaatkan keadaan itu. Beberapa waktu lalu saya nemu tulisan kisah seorang pemilik minimarket lokal yang jeli manfaatin harga murah jaringan minimarket modern tersebut. Yang bikin kesel pemain lokal (toko dan minimarket lokal) itu kadang harga jual mereka lebih murah daripada harga beli pemain lokal ke distributor. Jadi si pemilik minimarket lokal tersebut memborong saat minimarket modern nasional saat ada promo, saat promo minimarket modern selesai dan kembali ke harga normal, gantian dia yang pasang tulisan besar harga lebih murah dari sebelah hahaha. Bisa diikuti caranya?

Di Samarinda juga banyak minimarket lokal yang mampu bertahan, bahkan di dekat rumah ada minimarket lokal yang tetap ramai meskipun di jarak 50m darinya ada salah satu jaringan minimarket modern. Barang yang dijualnya lebih lengkap.

Kembali ke minimarket teman, setelah lama tidak jumpa saat akhirnya kesana saya lihat sudah tutup, saya langsung mengingat kembali saat dia mengajak beberapa orang teman untuk dimintakan pendapat, apa kira-kira yang membuatnya kini akhirnya tutup. Setelah beberapa saat setelah melihat jam di hp saya baru sadar ternyata ini sudah lewat jam bukanya, mmmm pantas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s