Berteriak

Seorang tukang urut yang tinggal di sebuah lingkungan pemukiman cukup lama dan mayoritas sudah kenal dan tahu profesinya tiba-tiba keluar rumah dengan berteriak “tukang urut”, kemudian masuk kembali ke dalam rumah dan tak lama kemudian mengulangi teriakan yang sama.

Apa pendapat Anda sebagai tetangga?

Pertama mendengarnya mungkin bertanya-tanya ada apa? Apa yang terjadi jika teriakan itu berulang dengan sering? Tiap hari mungkin. Tiap hari beberapa kali mungkin.

Sebuah bisnis perlu promosi, dan promosi itu perlu berulang agar orang-orang tahu dan ingat bisnis Anda, sehingga ketika orang memerlukan kemungkinan jasa atau produk Anda yang diingat pertama kali. Diperlukan untuk meningkatkan awareness atau kesadaran calon pelanggan terhadap bisnis Anda. Cara? Caranya bisa bermacam-macam mulai dari konvensional hingga sekreatif Anda.

Bagaimana jika teriakan tukang urut tadi terjadi sehari 10 kali sehari? Bahkan saat jam istirahat? Yang merasa bakal terganggu angkat tangannya, minimal mengangguk. Sama dengan promosi sebuah bisnis, kita juga mesti mengenal tempat, waktu dan intensitas promosi yang kita lakukan. Berpikirlah dan tempatkan diri Anda sebagai orang yang melihat, mendengar promosi kita. Sebuah promo yang tidak mengenal waktu, tempat dan bertubi-tubi akan membuat calon pelanggan menjadi tidak nyaman dan terganggu, ujungnya bisa kehilangan respek dari mereka. Bisa saja karenanya walau memerlukan jasa atau produk kita, mereka akhirnya enggan dan memilih jasa atau produk orang lain. Kalaupun tetap menggunakan jasa atau produk kita, karena keterpaksaan mendesak, jangan harap mereka menjadi brand advocate bisnis kita.

Terlebih lagi jika memanfaatkan media promosi yang gratis ditambah dapat tips promo gratis, bisa dijamin ‘teriakan’ ala tukang urut tadi akan makin nyaring dan sering terdengar. Mungkin ada juga sebagian orang yang menanggapi hal tersebut dengan “ah biar aja”, “ah gakpapa”, “gak merasa terganggu kok” tapi jika Kita ingin mendapat empati dari orang lain pilih yang mana? Pilih berteriak sesukanya dengan kehilangan respek sebagian orang atau mendapat respek dari semuanya?

Apakah karena tidak ada aturan sehingga membuat merasa bebas ‘berteriak’?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s