Kebenaran kita

Kehidupan bersosialisasi memunculkan beragam dinamika, takkan pernah ada 100% kesamaan pendapat dan rasanya malah aneh bagi saya kalau bisa begitu. Mulai dari perbedaan pendapat mengenai hal-hal pembahasan gak penting sampai topik serius. Tak perduli seberapa lama sudah menjalin persahabatan dan bergabung dalam sebuah kelompok yang sama, pasti akan terjadi dan terjadi lagi perbedaan pendapat. Ada yang saling berbeda pendapat dengan cara-cara bercanda sampai perbedaan pendapatnya bikin pemanasan global meningkat beberapa derajat.

Masing-masing rasanya saat itu merasa berdiri di sisi yang benar pendapatnya, saling meyakinkan dengan argumen, fakta dan dibumbui dengan intonasi yang meninggi, urat leher yang muncul dan air liur yang menyembur mungkin hihihi. Karena normal bahwa seseorang itu inginnya bahwa apa yang dia sampaikan dianggap benar. Lalu kalau setiap orang merasa pendapatnya benar apa berakhir harus diundi seperti arisan untuk menentukan pendapat siapa yang dipakai? Kalau diakhiri seperti itu pertanyaannya setelah itu, “bulan depan di rumah siapa arisannya?” hahahaha.

Apalagi kalau perbedaan pendapat itu soal sebuah keputusan, wah bisa makin meningkat pemanasan global karenanya. Perbedaan karakter ikut berperan besar pada seberapa seseorang mengambil sisi pendapatnya. Jika tak terselesaikan dengan baik potensi buruknya hubungan pertemanan setelahnya bisa saja terjadi. Lalu gimana kira-kira pendapat yang baiknya disepakati, pertimbangan apa pada akhirnya pendapat si G yang kita pakai? Menurut saya sih bergantung masing-masing seberapa penting masalah itu.

Seberapa penting masalahnya dan seberapa penting pendapat saya harus didengar dan dipakai. Saya pribadi tak pungkiri pasti ada rasa kepuasan saat pendapat saya lebih didengar dan akhirnya dipakai, saya kira normal dirasakan pada semua orang. Tapi biasanya saya akan berhenti setelah 3-5 kali berargumen, saya menimbang seberapa penting sih masalah ini dan seberapa penting sih kenapa pendapat saya harus terjadi, jika saya merasa tidak sepenting itu saya sudahi dan biarkan pendapat orang lain yang terlaksana. Saya belajar dan terus mengingatkan diri saya sendiri bahwa belum tentu pendapat saya benar, mencoba memahami pendapat yang berbeda dengan pendapat saya dan menerima untuk mendengarkan orang lain. Tapi terkadang saya menarik diri dari adu argumen juga karena merasa jengkel ada yang ngotot banget maksain pendapatnya, mungkin karena kelemahan saya karena saya gak suka berkonflik dan lebih baik menghindari jika mengarah ke sana.

Menurut saya bisa diselesakan hal seperti itu jika pihak-pihak mau merendahkan harga dirinya dan mendengarkan pendapat orang lain dan membandingkannya secara logis dengan pertimbangan-pertimbangan kondisi nyata dan harapan yang ingin dicapai. Pembelajaran saya dalam hal ini untuk mencoba melihat permasalahan dari sisi yang berbeda dengan sisi saya, belajar mendengar orang lain dengan menekan ego diri sendiri.

Pendapat saya belum tentu benar.

 

~ Akhmad Riduan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s